MEMAKNAI KEMENANGAN IDUL FITRI


Oleh: Akhmad Shunhaji[1]


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 الله اكبرx ٩  - لا اله الاالله هوالله اكبر الله اكبر ولله الحمد - الحمدلله الكريم الخلّاق والصلاة والسلام على سيدنا محمد المبعوث لتتميم مكارم الاخلاق اشهدان لااله الا الله الوهّاب  والرّزّاق واشهد انّ محمدًا عبدُه ورسوله وسيّدالسادات فصَلوات الله وسلامُه على سيدنا محمد خيرِالعباد وعلى اله واصحابه ماجرى قلم التلخيص والبيان على صفحات الاوراق -امّا بعد- فياعبادالله اوصيكم واياي بتقوى الله لعلكم ترحمون   - قال الله تعالى -  إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ، وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا، فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا[an-Nasr/110: 1-3] 

Hadirin jamaah shalat Idul Fitri, rahimakumullah waradhiya ‘ankum wabaraka lakum.

Marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt dan shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad saw. Teriring doa, semoga Allah swt menerima dan memberikan pahala atas semua amal ibadah baik kita. Amin ya robbal ‘alamin.

Mengawali khutbah ini, khatib mengajak kepada hadirin dan mustami’in termasuk diri khatib, untuk menyempurnakan takwa. Takwa merupakan perjanjian suci antar kita sebagai hamba dengan Allah swt, Sang Pencipta. Ketakwaan seseorang berbanding lurus dengan kesediaannya untuk melaksanakan perintah-perintah dan menjauhkan diri dari larangan-larangan Allah swt. Kesempurnaan takwa seseorang berbanding lurus dengan upayanya untuk membersihkan diri dari perkataan, sikap, perbuatan yang hina (at takholli ‘ankulli rodzilah) serta menghiasi diri dengan perkataan, sikap, perbuatan yang mulia (at taȟalli bikulli fadlilah).



Hadirin rahimakumullah,

Ramadhan sebagai sahabat yang menyempurnakan ketakwaan, telah pergi. Ramadhan pergi dengan membawa catatan kesaksian, yang disampaikan kepada Allah SWT bahwa sebagian umat manusia, yang Mukmin, telah melakukan latihan peningkatan kualitas kemanusiaannya, dengan banyak beramal kebaikan.

Hari ini adalah Idul Fitri, dimana semua Umat Muslim diperkenankan kembali menikmati hidangan, yang pada saat Ramadhan diperintahkan untuk menahan. Idul Fitri dimaknai oleh sebagian Umat Muslim sebagai Hari Kemenangan. Pemahaman tersebut, antara lain karena mereka mampu menahan hingga terselesaikannya perintah puasa di bulan Ramadhan.



Hadirin rahimakumullah,

Berbicara tentang hari kemenangan, sesungguhnya kita dapat belajar dari Rasulullah SAW, saat memperoleh kemenangan. Fathu Makkah adalah kemenangan besar. Umat Muslim memperoleh kembali tanah airnya dengan penuh kedamaian. Pesan penting pada hari kemenangan tersebut adalah bahwa hari itu sebagai hari kasih sayang. Rasulullah SAW langsung memberikan komando tentang hari kasih sayang ini, dan semua sahabat sepakat untuk mengawal dan menebarkan kasih sayang ini.

الله اكبرx ٣

Hari kemenangan merupakan hari kasih sayang. Setiap Umat Muslim diharapkan dapat meningkatkan kesadaran kemanusiaan yang dapat saling memaafkan, saling membantu, saling menasihati, saling menolong, saling mengasihi, dan saling mendoakan. 



Hadirin rahimakumullah,

Makhluk Allah SWT dalam kehidupan dunia ini, ada yang memiliki akal tetapi tidak dibekali nafsu yaitu malaikat. Terdapat makhluk yang memiliki nafsu tetapi akalnya tidak sempurna yaitu binatang. Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan akal dan nafsu sempurna. Dengan akal dan nafsunya, manusia disebut sebagai makhluk teomorfis, yaitu makhluk yang memiliki berbagai kelebihan tetapi memiliki kelemahan yang melekat pada dirinya sehingga masih tetap membutuhkan pedoman hidup dan petunjuk Allah SWT. Dan, Allah SWT menurunkan Al-Qur’an berfungsi sebagai pedoman hidup. Seperti disebutkan dalam QS. Al-Jatsiyah/ 45: 20, sebagai berikut:



هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini”

 الله اكبرx ٣



Hadirin rahimakumullah,

Perginya Ramadhan, sekaligus hadirnya Idul Fitri, memberikan legitimasi bahwa umat Muslim yang Mukmin, adalah makhluk teomorfis. Setelah melaksanakan ibadah puasa dan rangkaian ibadah lain di bulan Ramadhan, mereka semakin menyadari derajat kemanusiaan yang selalu membutuhkan orang lain. Idul Fitri mengembalikan kesadaran fitrah kemanusiaan yang saling membutuhkan satu dengan yang lain. Seorang Muslim adalah menjadi bagian kehidupan Muslim lainnya. Rasulullah saw bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمى[2]

Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu membahu seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam”.

Jika jempol kaki tersandung, terluka, dan infeksi, maka anggota tubuh lain merasakan sakit, bahkan demam. Kedua tangan terus mencari obat dan menaburkan obat pada lukanya, kepala mungkin terasa pusing, pikiran bahkan merasa lemah dan ingin cepat, menemukan obat yang tepat, agar luka di jari kaki segera kembali sehat.



الله اكبرx ٣

Hadirin rahimakumullah,

Ikatan persaudaraan sesama Muslim yang sangat erat menjadi perintah qath’y. Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin agar selalu menjaga ikatan kuat tali persaudaraan. Maka, memutuskan tali persaudaraan merupakan dosa besar, karena mencegah datangnya rahmat bagi diri dan orang-orang di sekelilingnya. Setiap Muslim wajib bertaubat dari memutuskan tali persaudaraan, memohon ampun kepada Allah SWT dan menyambung kembali tali silaturrahim. Rasulullah SAW, bersabda:

مامِنْ حَسَنَةٍ اَعْجَلُ ثَوابًا مِنْ صِلَةِالرَّحِمِ وما مِنْ ذَنْبٍ اَجْدَرُ اَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِه الْعُقوْبَةِ في الدنيامَعَ مايُدَخَّرُفى الاخرةِ مِن البَغْيِ وَقَطْعِ الرَّحِم

“Tidak ada perbuatan baik yang lebih cepat pahalanya daripada mempererat tali persaudaraan dan tidak ada dosa yang lebih pantas disegerakan siksanya di dunia di samping siksaan akhirat melebihi berbuat aniaya dan memutus tali persaudaraan”

الله اكبرx ٣

Kemenangan yang diperoleh seorang Muslim tidak membawa pada keangkuhan. Keberhasilan menyelesaikan puasa Ramadhan dan amal baik yang dilakukannya, tidak serta merta menanamkan rasa menjadi makhluk terbaik dan terbersih. Justru sebaliknya, Saat kemenangan tiba, orang-orang yang sungguh beriman kepada Allah SWT semakin tawaddhu’. Mereka menjadi pribadi yang menyenangkan bukan menakutkan. Oleh karenanya, Allah SWT mengampunkan dosa-dosa mereka, menyempurnakan nikmat pemberianNya, serta memberikan pertolongan dalam kehidupan selanjutnya. Dalam QS. Alfath: 1-3, Allah SWT berfirman:

اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ

“Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata”

لِّيَغْفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْۢبِكَ وَمَا تَاَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًا

Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus”

وَّيَنْصُرَكَ اللّٰهُ نَصْرًا عَزِيْزًا

Dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).



Hadirin rahimakumullah,

Sebagai umat Muslim yang telah terlatih oleh Ramadhan, maka menjadikan Rasulullah SAW sibagai figure dan contoh teladan adalah langkah yang paling tepat. Meneladani Beliau menjadi langkah terbaik dalam merayakan kemenangan. Karena mengikuti Rasulullah merupakan tanda umat Muslim cinta kepada Allah swt.



قُلْ اِنْ كُنْتُم تُحِبُّون اللهَ فَاتَّبِعُوني يُحْبِبْكُم اللهُ وَيَغْفِرْلكم ذنُوبَكم واللهُ غَفوْرٌرَّحِيم[3]



Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang



Rasulullah saw adalah sosok manusia paling humanis, santun, rendah hati, tegas, dan penyayang. Wajah beliau sangat enak untuk dipandang. Beliau pribadi yang memberikan kenyamanan pada siapapun yang berkomunikasi dengannya. Cara dakwah beliau melakukan pendekatan dengan cara mengajak bukan mengejek. Sebagai pemimpin tertinggi, baik pemimpin agama, kepala negara, dan kepala pemerintahan, beliau tokoh yang sangat menyayangi masyarakatnya yang plural. Beliau mengajarkan agar siapapun yang lebih muda menghormati yang lebih tua, dan sebaliknya, yang lebih tua menyayangi yang lebih muda, memuliakan tamu, menghormati tetangga, dsb. Beliau membawa Islam sebagai ajaran yang menghadirkan kedamaian.   



Hadirin rahimakumullah,

Momentum kemenangan pada Idul Fitri kali ini, sangat tepat untuk kembali mempererat rasa cinta, kasih, sayang, pada keluarga dan kerabat, tetangga dan sahabat. Sesama Muslim sepatutnya saling menyayangi dan mendoakan, bukan saling bermusuhan, hanya karena berbeda pendapat ataupun pendapatan, berbeda pandangan dalam menitipkan amanah kepemimpinan, berbeda cara beribadah dan perbedaan-perbedaan furu’iyyah lain. Perbedaan-perbedaan yang muncul dari pandangan kita hanyalah bersifat dzonny, sementara itu, telah jelas ajaran yang bersifat qath’iy bahwa sesama Muslim harus saling menjaga satu dengan yang lainnya, sesama Muslim adalah satu saudara yang saling mengikat satu dengan yang lain. Perintah yang sudah qath’iy tidak bisa gugur dengan adanya hal yang bersifat dhanny.

الله اكبرx ٣

Hadirin rahimakumullah,

Marilah kita jadikan Idul Fitri ini, sebagai awal pijakan melapangkan hati, menerima kehadiran kerabat dan sahabat, sebagai penyebab turunnya rahmat. Ka’bul Ahbar berkata, di dalam Taurat tertulis:

اتَّقِ ربَّك وَبِرَّوَالدَيْك وصِلْ رَحِمَك اَمُدُّ لك فى عُمُرِك واُيَسِّرُك فى يُسْرك واُصْرِفُ عَنْك عُسْرَك

“Bertakwalah kamu kepada Tuhanmu, berbaktilah kepada kedua orang tuamu, pereratlah tali persaudaraanmu, niscaya Aku panjangkan umurmu, Aku mudahkan dalam urusan harta, dan Aku jauhkan kamu dari kesulitan

Semoga semua yang hadir di sini pada saat ini selalu dalam bimbingan, cinta, kasih dan karunia illahi rabbil ‘izzati.

اقول قولي هذا فاستغفروااالله العظيم انه هوالغفور الرحيم

  

Khutbah ke-2

الله اكبرx ٧  - لا اله الاالله هوالله اكبر الله اكبر ولله الحمد -

الحمد لله الذي معزمن اطاعه والتقاه ومذل من اضاع امره وعصاه اشهدان لااله الاالله واشهدان محمد الرسول الله اللهم صل على سيدنا محمدابن عبدالله وعلى اله واصحابه الى يوم القيامه -اما بعد - فيا عبادالله اتقواالله حق تقاته حتى تكونوا من الناجحين - قال الله تعالى في القران العظيم ومايذكرون الاان يشاءالله هواهل التقوى واهل المغفرة[4]



Hadirin …mari sama-sama kita menengadahkan kedua tangan untuk memohon kepada Allah swt:

Ya Allah, ya Tuhan kami, pada kesempatan ini hamba bersimpuh di hadapanMu untuk memohon ampunan atas dosa-dosa orang tua kami, guru-guru kami. Orang tua kami yang telah pulang ke rahmatMu, ampunkan dosa dan kesalahannya, lapangkan alam kuburnya menjadi raudlah min riyadlil jannah dan jauhkan dari kufrah min kufarin niran. Orang tua kami yang masih hidup, maafkan segala salah, dosa, dan kekhilafannya, karuniakan kesehatan lahir batin kepada beliau, bimbing hidupnya menuju rahmat dan ridlo-Mu, akhiri hidupnya dalam keadaan iman dan Islam bi husnil khatimah.

Ya Allah ya Tuhan kami, selama ini kami tanpa sengaja merasa menjadi lebih baik dari saudara-saudara kami seiman, padahal mungkin bisa jadi mereka memiliki amal ibadah yang jauh lebih baik dan telah membuatMu ridho. Ya Allah, terkadang kami menghina hamba-hambaMu karena kami memandang mereka salah, kami khilaf jikalau menghina hambaMu berarti menghinaMu sebagai Pemiliknya. Terkadang kami melakukan perbuatan-perbuatan yang membuat hati mereka terluka. Kami terkadang menyombongkan kekayaan kami, pangkat jabatan kami, kekuatan kami, keindahan tubuh kami, dan kami melupakan bahwa semua itu adalah milikMu. Kami telah melakukan kesalahan dan kebodohan. Oleh karenanya ya Rabb, ampunkan dosa, salah, serta khilaf kami. Hanya kepadaMu kami memohon, dan hanya kepadaMu kami meminta agar Engkau kabulkan permohonan kami.

ربنا ظلمنا انفسنا وان لم تغفرلنا وترحمنا لنا كوننا من الخاسرين ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار عبادالله ان الله ياءمركم بالعدل والاحسان وايتائ ذي القربى وينهى عن الفخشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون فاذكروالله العظيم يذكركم وادعوه يستجب لكم ولذكرالله اكبر

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته













[1] Dosen Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta dan Komisi Dakwah MUI DKI Jakarta
[2] HR Al-Bukhari (no 6011), Muslim (no 2586), Ahmad (IV/ 270)
[3] QS. Ali Imron/ 3: 31.
[4] QS. Al-Muddatstsir/ 74: 56

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.